Kebiasaan Buruk Kids Zaman Now yang Bernilai Positif

Anak zaman sekarang yang terkenal dengan istilah “kids zaman now”memiliki banyak kebiasaan yang terlihat negatif padahal sebenarnya bisa bernilai positif kalau mereka diarahkan atau memiliki inisiatif untuk memanfaatkan kebiasaannya tersebut.

Kalau termasuk generasi milenial, apakah kamu setuju dengan kebiasaan-kebiasaan yang dinilai negatif? Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengubahnya menjadi bernilai positif? Berikut ini beberapa kebiasaan buruk yang dimaksud.

Pertama, terlalu kecanduan social media

Sepertinya tidak bisa dipungkiri kalau anak zaman sekarang yang hidup di mana teknologi sudah berkembang pesat pasti bisa menggunakan social media. Anak yang tidak memiliki smartphone mungkin akan dijuluki ‘cupu’ dengan kepanjangannya ‘culun punya’ atau nama lain dari tidak up to date. Instagram dan youtube sudah menjadi teman sehari-hari yang tidak bisa dijauhkan terlalu lama. Rasanya kalau beberapa jam apalagi sehari tidak bermain social media bagaikan runtuh dunia. Bahkan mereka lebih baik tidak makan daripada tidak memantau socmed. Begitulah lebaynya generasi milenial.

Maraknya social media terutama instagram sebenarnya tidak hanya bagi kalangan anak muda karena banyak orang dewasa yang juga menggunakannya. Mengapa anak muda atau kids zaman now ini yang menjadi sorotan? Karena mereka masih dalam umur labil yang belum terlalu mampu membedakan dampak negatif bagi diri mereka. Mereka butuh orang dewasa khususnya orangtua untuk membimbing dan mengarahkan agar tidak tersesat. Sebenarnya social media bisa menjadi alat yang bermanfaat kalau dikelola dengan kreatif.

Vlogger, blogger, dan influencer yang sebagian besar adalah anak-anak muda menggunakan berbagai jenis social media untuk eksis atau tampil di depan publik. Jika kids zaman now memiliki kreativitas dan dibimbing oleh orangtua atau orang dewasa yang tepat pasti bisa berkembang menjadi orang sukses dan terkenal. Cepatnya akses informasi harus dimanfaatkan juga yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Guru harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sehingga murid-murid bisa diajarkan secara tidak langsung melalui postingan positif di social media.

Kedua, suka berfoto dengan gaya dan lokasi yang instagramable

Kehadiran instagram tidak bisa dipungkiri menjadi penyebab utama kids zaman now gemar berfoto terutama saat berada di lokasi yang kekinian dan digemari oleh teman-teman sebaya. Sebenarnya kebiasaan atau kesukaan berfoto bisa menjadi hal positif kalau disalurkan ke tempat yang benar. Kalau foto-foto yang dihasilkan bisa diposting ke social media dan menjadi viral maka anak tersebut bisa menjadi terkenal. Kreativitas dalam berfoto dan mengedit foto menjadi hal positif yang harus dikembangkan. Kalau terus diasah, hobi yang berhubungan dengan fotografi bisa menjadi ladang penghasilan yang menjanjikan.

Para orangtua yang jeli melihat hobi atau kesukaan anaknya harus memfasilitasi sambil mengawasi agar fasilitas yang diberikan bisa dipakai dengan baik. Kalau punya anak yang gemar memotret atau dipotret sebaiknya diperbolehkan saja. Kalau suka memotret berarti harus diberi fasilitas berupa kamera canggih atau smartphone dengan spek kamera yang unggul. Kalau anak suka berfoto (selfie) atau difoto berarti anak itu memiliki potensi untuk menjadi model atau artis. Hobi yang mengarah kepada masa depan harus didukung agar bisa menjadi orang sukses sesuai dengan passion.

Sudah bukan zamannya anak harus dipaksa menjadi dokter atau PNS padahal dia berbakat di bidang seni. Biarkan anak-anak berkembang sesuai dengan bakat dan minat asalkan tetap berada di jalur yang benar.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.